[Esai Pameran] RT.03: Sebuah Penghampiran Negativitas

Oleh: A.Sudjud Dartanto

Tulisan ini dibuat saat kesenian kita tengah “gerah”. Dikatakan gerah, oleh sebab praktik kesenian yang selama ini diterima sebagai “kawasan bebas-kreatif” tiba-tiba berurusan dengan Rancangan Undang-undang (RUU) Pornografi/Pornoaksi. RUU itu menyontak kaget pelbagai kalangan, tak terkecuali pelbagai aparatus kesenian mulai dari praktisi (seniman) hingga pengamat. Fenomena ini menyulut pro-kontra soal ukuran porno dan bukan porno.

Porno dan bukan porno. Tentu saja ini menyangkut perkara “diskursus”. RUU itu tentu menyimpan hasrat yang menghendaki munculnya objek pengetahuan dominan. Yaitu objek pengetahuan yang hendak mengatasi ranah publik dan ruang privat. Objek pengetahuan dalam preseden RUU itu bisa menjelma sebagai “juklak etika dan moral” Negara yang musti dipatuhi oleh warganya. Dalam cara pandang lain, rencana regulasi itu bukan tidak mungkin akan menjadi mekanisme kontrol “tubuh”, persis seperti apa yang telah ditesiskan oleh filsuf Perancis, Michel Faucoult tentang relasi pengetahuan dan kuasa sebagaimana yang ditunjukkan pada karyanya: Dicipline and Punish.

Perupa sebagai individu tentu saja gerah, bukan saja oleh sebab RUU itu punya potensi meringkus kebebasan kreatif perupa. Akan tetapi juga menyangkut perkara yang lebih luas dan substansial yaitu pada perihal kemanusiaan kita. Sebab seni tentu tidak bisa dipisahkan dari kamanusiaan. Kikir kiranya bila makna ketelanjangan dalam karya seni rupa misalnya, dianggap sekadar bentuk promosional pornografi. Ketelanjangan dalam seni rupa bahkan bermaksud sebaliknya, yaitu mengajak orang untuk melakukan sebuah kejujuran(?) Sebab “barangsiapa yang menutup akan terbuka”.

Seni hadir dari pengalaman kemanusiaan. Seni menyampaikan pengalaman kesadaran “negativitas”. Singkatnya, kemanusiaan bukan sekadar apa yang rasional dan mekanistik, kemanusiaan bukan pula kalkulasi ekonomis-Marxian atau urusan biologis-Freudian. Namun, subjek/ego punya “hasrat”-subjektivitasnya tersendiri. Bahasalah yang meretakkan “kebersatuan” yang dulu pernah ada dan seni mengumpulkan kepingan pecahan itu. Sebab itu, apakah mungkin mencari “matriks logis” dalam karya seni?

Perspektif negativitas ini sengaja diajukan di sini untuk menegaskan seni tidak bisa direduksi oleh bahasa yang positivistik. Seni bahkan dikatakan memiliki dimensi yang “spiritual”. Bagi saya, argumen ini tidaklah terlampau mengada-ada, menafikkan apa yang ada dalam karya seni adalah mengingkari kemanusiaan kita sendiri. Tidakkah perupa itu sedang menyusun retakan? Yaitu dengan menghadirkan neurotika, melukiskan reduksi-reduksi acak dan kombinasi tanda yang skizofrenik.
Berbeda dengan pandangan subjek-rasional, bagi Lacan, subjek dalam bahasa, —dan kita boleh setuju atau tidak—adalah sekadar fungsi bahasa. Lacan menolak ‘konsep subjek’ dalam kuasi Cartesian (I think therefore I am) dan biologis (Freudian), subjek bagi Lacan adalah adalah jalan bagi “desire”.

Sebab itu, seperti yang didiskusikan di atas, karya seni datang dari arah “negativitas” (unconcious). Karya seni menghampirkan kisah “traumatis”. Sebab itu karya seni yang menggetarkan, dipicu oleh suatu delirium. Seperti novel Nukila Amal Cala Ibi, karya seni bagaikan mencemooh bahasa dengan mengaduk-aduk tanda yang ada.

Mari kita perhatikan apa yang terlihat pada karya di pameran RT.03 ini. Tampak metafora yang berujud figur-figur dan objek-objek yang dilukis oleh ketiga perupa (Rudi, Indra dan Hono) hadir tanpa kesan ragu-ragu, ada hasrat mengapa mereka membangun kalimat demikian. Dan penting kiranya untuk menyimak apa yang menjadi pernyataan mereka dalam pameran ini: “Individu merupakan pelaku yang dapat membentuk tapi juga tidak dapat lepas begitu saja dari pengaruh lingkungannya atau dengan kata lain individu adalah subyek sekaligus obyek dari wilayah sekitarnya, (Konsep pameran RT.03).

Pernyataan ini seperti manifesto kesadaran perupa yang tidak ingin selesai-sudah dalam jepitan kuasa bahasa. Bagi saya bertemunya ketiga perupa ini bukan sebuah kebetulan, mungkin ada “kebutuhan”: coput mortuum, yang dirasa sama oleh ketiganya. Di RT.03 ini kita seolah dihimbau untuk tidak terburu-buru pasti dan rampung.

Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog pameran.

Advertisements

About this entry