[Esai Pameran] Tanda Tanah: Dari Interioritas menuju Eksterioritas

Oleh: A.Sudjud Dartanto

…ternyata aku bisa membuat anglo yang nyeni ya mas
(Suwartriningsih, pengarajin Kasongan) *

…saya membebaskan mereka untuk menuangkan gagasan-gagasan mereka sesuai dengan imajinasi masing-masing.*
(Rifki, perupa)

Lima perupa muda ini bekerja dengan media keramik dengan cara yang tidak lazim. Selama ini pameran keramik cenderung mengeksposisikan karya tunggal (single works). Atau dari studio kerja perupa keramik. Cara yang tidak lazim ini ditandai dengan kesadaran lima perupa ini melibatkan diri pada kelompok /organisasi budaya yang mereka pilih. Masing-masing adalah Andri ‘Boy’ Kurniawan pada kelompok anak muda. Melisa pada kelompok budaya ‘IKAISYO’ (Ikatan Istri Senirupawan Yogyayakarta). Rifki Sukma pada kelompok pengrajin Kasongan. Moko pada organisasi Remaja Islam Masjid Ridwanillah (REISMA). Dan Trien ‘iien’ Afriza pada sebuah keluarga (keluarga Bunda Asih). Lima keramikus muda ini bekerja dengan lima kelompok/organisasi budaya dalam masyarakat. Disebutkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah memediasikan keramik pada masyarakat, sekaligus mengajak pelbagai kelompok/organisasi budaya untuk mengontestasikan karya kreatifnya.

Kelima keramikus ini hadir sebagai fasilitator sekaligus terlibat dalam kerja kreatif bersama lima kelompok budaya itu.

Ahh…apa gunanya kita membicarakan persoalan tersebut, toh….mana mungkin suara kita bisa didengar oleh wakil-wakil rakyat.*
(Remaja Islam Masjid Ridwanillah)

Sandal merupakan alas kaki sederhana yang mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari…*
(Moko, perupa)

Saya membayangkan proses kreatif ini tentu tidak mudah. Sebab, lazimnya perupa yang selama ini terlanjur dikenal bekerja secara individual, kerja seperti ini cenderung sebagai bentuk advokasi melalui seni. Barangkali tidak terlalu berlebihan bila bisa dikatakan demikian, walau tidak secara eksplisit mereka tegas mengatakannya. Namun semangat untuk melakukan mediasi, edukasi dan advokasi kelompok budaya ini mengindikasikan adanya terobosan dalam tubuh dunia keramik itu sendiri yaitu dari gerak ‘interioritas’ ke ‘eksterioritas’. Artinya seperti halnya ‘seni publik’ (public art), apa yang mereka lakukan kurang lebih sama dalam pengertian seni publik itu. Hanya bedanya, bila seni publik adalah objek atau peristiwa seni yang dihadirkan di ruang publik, kerja lima keramikus ini dengan sengaja melakukan proses bersama dengan pelbagai kelompok /organisasi budaya yang ada.

Setelah berbicara lama dan panjang, ternyata beliau tertarik dan bersedia untuk berkolaborasi dalam berkarya, dengan latar belakang nostalgi masa kecil, beliau akan bermain boneka-bonekaan yaitu: “TOLO – TILI” permainan anak Jawa zaman dulu.
(I’in, perupa)

Proses kreatif atau proses kerja dalam pameran ini bagi saya justru bagian inti dari pameran ini. Oleh sebab, tentu ada pelbagai hal yang terjadi di sana. Dalam cara pandang yang lain, salah satu keberhasilan pameran ini bagi saya adalah lima keramikus ini telah menyatukan lima kelompok/organisasi budaya itu melalui seni, khususnya melalui media tanah liat. Sebagai sebuah ‘momen kultural’, seni dalam kegiatan ini menyatukan pelbagai kelompok budaya itu untuk menjadi satu dalam mozaik bersama.

…saya mengibaratkan bahwa ibu-ibu itu sedang mengemudikan laju perahunya untuk mengarungi kehidupan ini. Kalau itu benar, pengalaman berlayar mereka tentu sudah jauh lebih hebat dari pada saya.*
(Melisa, perupa)

Keramik adalah media yang memiliki kompleksitas teknisnya tersendiri. Berbeda dengan seni lukis misalnya, dimana suatu gagasan bisa langsung dituangkan dalam bidang kanvas, keramik memerlukan proses pembuatan bertahap. Dari olah tanah, pembakaran pertama, pengglasiran dan pembakaran terakhir. Masing-masing tahapan memiliki kompleksitas teknis tersendiri pula. Oplosan tanah menentukan hasil jadi, sukses tidaknya pembakaran pertama ditentukan oleh pengeringan dan fluktuasi suhu dalam tungku, hasil glasir ditentukan oleh oplosan senyawa kimiawi dan kesemuanya ini ditentukan oleh pembakaran berikutnya.

Workshop itu berujung pada tema “ membayang sayap diri sendiri”, yang banyak menghadirkan nuansa personal pada setiap visualnya, masing-masing intens bergulat dengan ide dan gagasan yang dengan sendirinya mencairkan kebekuan paradigma bahwa berkeramik itu susah.*
(Boy, perupa)

Apa yang penting dicatat, pertama adalah eksposisi ini merupakan jelajah baru dalam menggunakan dan memaknai media keramik. Sebab cukup sering kita menyaksikan pameran keramik sebagai karya single works (tunggal), dan lewat pameran ini kita melihat bagaimana proses kolaborasi dan interaksi itu terjadi antara perupa dan pelbagai kelompok/organisasi budaya itu. Kedua, pameran ini adalah gerak dari ‘interioritas’ menuju ‘eksterioritas’, yaitu sebuah pengalaman meninggalkan diri (self) untuk bersama-sama memaknai sebuah tema (lihat tema-tema pada karya mereka : Kapal, Sayap, Sandal, Anglo, Rumah) secara kolaboratif. Kelima tema itu tampil sebagai metafor yang lahir dari proses. Perupa dan kelompok/organisasi budaya itu bersama-sama memaknai dan mematerialisasikan makna itu pada media keramik. Pelbagai simbol hadir sebagai hasil proses kolaborasi mereka, inilah bagian menarik yang bisa kita simak dalam pameran ini. Manusia dikatakan, dari tanah kembali ke tanah. Dan pameran ini tampil dengan tajuk yang menarik: “tanda tanah”.

·Kutipan diambil dari konsep dan hasil wawancara mereka.

Tulisan ini dipublisikan dalam katalog pameran.

Advertisements

About this entry