[Esai Pameran] “Pecah Ndase”: Yang Lain, yang Khaotik

Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog Pameran

Oleh: Sudjud Dartanto

Kedua perupa ini memiliki sejarah subkultur musik yang mewarnai kehidupan mereka. Baik Budi ‘Bodong’ dan Pandu Mahendra adalah sosok yang tidak asing bagi ingatan kolektif pendengar musik independen di Yogyakarta.

Ada yang menyamakan selera musik mereka yaitu pada jalur ‘disinterestedness music’, sebuah genre musik yang dibedakan dengan selera musik mainstream. Secara kultural, mereka dibesarkan seiring oleh berkembangnya pelbagai budaya klab, pelbagai subkultur musik di Yogyakarta yang mulai marak kurang lebih dalam dua dekade di Yogyakarta.

Mereka menyuarakan pelbagai bentuk protes sosial tentang pelbagai hal yang tak beres di negeri ini. Situasi kontemporer kota Yogyakarta ikut menjadikan cara pandang mereka dinamis pada pelbagai fenomena perubahan. Yogyakarta, notabene adalah kota yang eksis diantara dinamika pengetahuan logos dan mitos, antara tradisi dan modernitas.

Mereka ada diantara pelbagai selera yang saling menyeberang dan menerobos pelbagai kelas-kelas sosial, sekaligus hidup di oase pelbagai identitas yang selalu ‘menjadi’ (becoming) dan tak pernah tetap.

Saya sengaja untuk mengawali pembacaan ini melalui sekelumit sejarah sosial mereka, oleh sebab apa yang mereka “rupakan” dalam pameran ini sesungguhnya memiliki hubungannya dengan sejarah sosial mereka yang otentik. Kesengajaan pembacaan ini dilakukan untuk kita beroleh pemahaman lebih dekat dengan langgam bahasa ekspresi mereka. Sekaligus kita dapat mengapresiasi bagaimana mereka mengelola berbagai tanda yang mereka buat dalam karya-karya mereka.

Dalam suatu percakapan, diketahui bahwa mereka berpendirian untuk tidak meletakkan diri ada satu cara bahasa ekpresi yang tetap. Mereka lebih mengutamakan karya mereka sebagai refleksi kegelisahan “dunia batin” mereka dan tidak membatasi diri pada pilihan medium dan bahasa ekspresi tertentu. Bodong misalnya, ia menampilkan bahasa ekspresi dalam bentuk citra sosok-sosok manusia-mesin “cyborg” dalam karyanya. Figur-figur itu baginya bisa menjadi dirinya atau sosok siapa saja. Baginya, sosok-sosok dalam lukisannya adalah manusia yang kini bak seperti mesin hidup.

Sementara Pandu dibeberapa karyanya tertarik untuk merespon fenomena ulah hasrat serakah manusia yang menyebabkan pelbagai kerusakan ekologi di negeri ini. Ia membuat pelbagai visualisasi dan miniatur pelbagai citra tentang hal itu dalam bentuk karya dua dan tiga dimensi. Kita bisa melihat sosok rumah logam dengan citra api yang membakar, pelbagai ilustrasi asap, dan lain-lain. Kedua perupa ini memiliki satu statement yang sama yaitu seni sebagai bentuk pengungkapan protes sosial yang diungkapkan lewat pelbagai citra simbolik.

Pada pengertian lain, apa yang mereka tampilkan mengajak kita untuk melakukan hening dengan kekhasan bahasa mereka. Ada yang penting dicatat yaitu idiom-idiom yang mereka tampilkan tidak lepas dari semangat jaman mereka: citra robot, mainan, dan pelbagai citra material yang mewakili zeitgeist mereka.

Apa yang sosial sekaligus adalah apa yang individual. Bahwa pengalaman kedirian mereka tidak lain sesungguhnya pengalaman kolektif kita juga. Apa yang mereka gelisahkan adalah kegelisahan kolektif kita. Mereka merespon pelbagai peristiwa yang terjadi di tanah air mulai dari kebakaran hutan, lumpur panas Sidoarjo, pelbagai ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang sering kita dengar setiap hari. Bagi mereka, kecamuk peristiwa demi perisitwa yang dialami masyarakat menjadikan masyarakat kian kehilangan suara. Menjadi diam.

Oleh sebab diam, muncul masyarakat senyap (silent majority). Yaitu gelombang massa yang tak bersuara, yang disebabkan keadaan yang telah demikian khaotik. Di Indonesia, adakah kita diantara masyarakat diam itu? Kita mendengar dipelbagai tempat, orang-orang kehilangan hak hidup, orang-orang yang bungkam atas perlakukan represif. Tidakkah ia bersuara? Sesungguhnya pada alam bawah sadar kolektif kita, suara-suara itu tetap ada, eksis dan terus berdialog. Saya melihatnya ini pada teks-teks tulisan yang muncul dalam karya-karya mereka.

Teks itu kadang muncul dengan intonasi yang lugas dan cepat. Namun masih teramat banyak yang tak terbaca. Di beberapa lukisan Bodong misalnya, teks-teks tulisan itu seperti sebuah racauan, igauan bawah sadar, ia hanya jelas terbaca bila kita mau “mendengar” teks-teks itu. Sedemikian banyaknya jerit kemanusian yang muncul seperti igauan, dan terdengar meracau bagi telinga penguasa.

Igauan dan racauan muncul pada orde yang represif. Seharusnya, suara-suara itu mendapat tanggapan, akan tetapi sedemikian bebalnya kuasa orde represif menjadikan bahasa tak lagi milik mereka, sebab itu yang hadir seperti sayatan senar minor.Kedua karya ini lahir dari sebuah kota Yogyakarta. Apa yang Yogyakarya citrakan sebagai kota berhati nyaman, menjadi lain manakala kita melihat karya-karya mereka. Mereka tidaklah membuat gambaran sebuah “estetika apollonian”, akan tetapi sebuah “estetika dionisian” (disinterestedness art). Ini seperti membalik sisi lain dari orde kosmos Yogyakarta yaitu sebuah orde khaos kota Yogyakarta. Namun, dari titik-titik perhatian mereka, menunjukkan bahwa seolah khaos tidak hanya pada tempat di Yogyakarta akan tetapi melintasi ruang-ruang yang lain. Dari sini kita beroleh suatu hal bahwa seni khaotik ini memiliki sifatnya yang universal.

Khaos menghasilkan menjadi begitu tipikal disini. Tidak lain adalah pada energi mereka yang intens untuk mengolah pelbagai tanda khaotik itu menjadi estetika yang mengantarkan kita menuju pengalaman akan sebuah “realitas Yang Lain”. Ini adalah strategi membongkar topeng simulakra kita sendiri yang seolah-olah kita dalam keadaan baik-baik saja, akan tetapi sesungguhnya adalah yang sebaliknya.

Dipelbagai event seni, tema-tema tubuh kerap selalu muncul. Ini menandakan selalu ada relasi erat antara seni dengan tubuh yang memang menjadi arena perebutan kuasa pengetahuan. Bagaimana tubuh didisiplinkan tergantung oleh orde kuasa pada letak dan zaman tertentu. Di era Hitler, di Jerman pada masa Nazi misalnya, hanya tubuh yang melambangkan idealisasi etnis Aryan yang diperbolehkan muncul. Hanya penggambaran “tubuh apollian”lah yang boleh eksis.

Lewat pameran ini kita melihat sebaliknya, yaitu barikade tubuh khaotik; pelbagai tubuh-tubuh nampak tak sempurna pada kedua karya mereka. Mari kita perhatikan. Pada Bodong misalnya, tubuh yang terlihat adalah tubuh yang nyaris tak lengkap, ia tak bermata. Dengan kepala yang disana-sini berlubang dan terajut oleh pelbagai citra kabel-kabel. Hidung yang mencuat bak pinokio.

Sementara pada Pandu, nampak lebih ekstrim lagi, di salah satu karya objeknya nampak pada moncong kereta lori itu yang tersisa adalah potongan-potongan kaki. Bahkan objek itupun menjadi sosok yang hadir dengan cara ganjil, yaitu personifikasi kereta yang berkaki. Sebuah kereta dengan pose berdiri yang “aneh” dan berjalan dengan cara tak serasi.

“Kesaksian” perupa lewat pameran bertajuk “Pecah Ndase” menjadi sebuah pesan moral bagi kita semua. “Pecah Ndase” seperti hendak mengatakan bahwa selama ini tubuh sosial kita pecah dan tak lagi utuh dan di bawah alam kesadaran sosial kita: ada jerit kemanusiaan yang tak mendapat tempat dalam panggung sosial. Seni lewat melalui kedua karya perupa ini, telah memperlihatkan jejak itu, memperlihatkan sebuah differance akan “Yang Lain”;realitas “Yang Khaotik”.

Advertisements

About this entry