[Esai Pameran] Ruang Seni sebagai Ruang Transformatif *

Oleh: Sudjud Dartanto

Risalah ruang seni (art space) saya kira sudah banyak diperbincangkan diberbagai kesempatan wicara, dan publikasi sejak beberapa dekade terakhir.

Juga berbagai kerja memetakan dan mendokumentasi ruang-ruang seni dilakukan oleh lembaga-lembaga dokumentasi seni seperti yang dilakukan Ruang Rupa dan Yayasan Seni Cemeti (kini IVAA, Indonesian Visual Art Archive). Sepembacaan saya, risalah ruang seni tampil menjadi wacana dalam dua momen perhelatan seni rupa Indonesia, yakni ketika terjadi boom seni lukis di era 80-an. Saat itu kebutuhan untuk mencari format dan arti keberadaan ruang seni menjadi isu luas dikalangan seni rupa di Indonesia. Kala itu pula sejumlah galeri swasta bermunculan, terutama di Jakarta, Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Lalu wacana ruang seni kembali menjadi topik hangat dalam seni rupa pada medio 90-an, sebuah awal yang menandai berkembangnya berbagai ‘ruang seni non-galeri’ yang menggejala di banyak kota pula. Kemunculan ruang seni itu ditengarai oleh sejumlah peneliti, dan pengamat dengan istilah ‘ruang alternatif’(alternative space).

Wacana ruang seni pada era 80-an telah membentuk pengetahuan dan memicu kesadaran akan pentingnya etika pasar dan mengelola galeri secara profesional. Sementara wacana ruang alternatif merupakan respon atas minimnya kebutuhan-kebutuhan representasi, juga sebagai antitesis keberadaan ruang seni yang dianggap mapan, seperti galeri dan museum. Kedua wacana ini merupakan produk dari fenomena makin meluasnya persepsi seni itu sendiri, yang pada gilirannya memengaruhi dan mengubah cara pandang, serta fungsi keberadaan ruang seni (sebagai catatan: era 90-an disibuki oleh wacana postmodern, yang mempertanyakan premis-premis estetika modern, salah satunya infrastruktur seni modern, seperti galeri dan museum). Disini, kita bisa melihat wacana ruang seni itu sendiri merupakan produk dari konstelasi wacana yang terus berubah dan berkembang.

Sejak era 90-an hingga kini muncul fenomena untuk menciptakan nama ruang seni yang berbeda (tidak mengunakan istilah galeri lagi, namun walaupun demikian penamaan galeri sampai kini pun masih ada). Gejala perubahan penamaan ruang seni dari galeri ke yang non-galeri ini bisa dilihat sebagai penanda menguatnya wacana dan praktik ruang alternatif. Gejala ini merupakan respon yang tidak terhindarkan dari dinamika pasar (ekonomi), yaitu makin terbentuknya apresiasi kapital terhadap karya-karya seni kontemporer, kedua, pada pengaruh konstelasi dunia seni global (art world), yang ditandai dengan berkembangnya infrastruktur seni kontemporer, dan ketiga, pada kondisi sosio-kultural masyarakat yang menyangga, dan mendukungnya. Ketiga hal ini menjadi faktor determinan yang tak terhindarkan, dan ikut menentukan orientasi, status dan fungsi sebuah ruang seni masa kini.

Sampai di penghujung 2007 ini, saya kira kehadiran ruang seni di masyarakat kini tidak lagi menjadi anomali. Dikatakan demikian, apabila kita bandingkan ruang seni di era kolonial hingga fase pembentukan republik dimana ruang seni saat itu masih dianggap hal langka, asing, dan kental dengan nuansa aristokratis. Dahulu pula keberadaan ruang seni bergantung pada fluktuasi rezim yang berkuasa (kebijakan dan pengaruh). Ini bisa kita lihat pada produk karya seni di era itu yang merepresentasikan tarik-menarik ideologi dominan dalam memengaruhi politik identitas nasional.

Walau jumlah pilihan ruang seni kini masih jauh dari gambaran ‘toserba’ (toko yang memiliki beragam pilihan produk), akan tetapi kini setidaknya masyarakat sudah bisa mulai memilih ruang seni sesuai dengan kebutuhan representasinya. Orang bisa bebas memilih tawaran yang disediakan oleh beragam ruang seni yang ada. Situasi ini tentunya merupakan konskuensi logis dari tatanan masyarakat modern yang selalu membutuhkan diferensiasi.

Tidak seperti pada negara yang telah lama mapan infrastruktur seninya, dimana pemerintahnya aktif berperan dalam menguatkan basis infrastruktur keseniannya, di Indonesia keberadaan ruang seni saat ini lebih banyak dilakukan oleh swasta dan inisiator akar rumput (sipil). Berbagai macam inisiasi dilakukan sebagai refleksi atas minimnya diferensiasi dalam menandai kebutuhan-kebutuhan representasi masyarakat. Bila kita bandingkan dengan ruang seni di negara mapan, dimana ruang seni begitu banyak, beragam, dan spesifik, disini sikap ruang seni cenderung cair dan akomodatif terhadap berbagai genre seni. Sementara itu jatuh-bangun, timbul-tenggelam ruang seni juga menjadi bagian dari cerita sejarah keberadaan ruang seni di Indonesia.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari ruang seni? Saya kira hampir setiap pengelola ruang seni ini memiliki konteks kebutuhan representasi yang berbeda. Bagi ruang seni yang memiliki orientasi isu-isu kontemporer mau tidak mau akan terus adaptif dengan perubahan-perubahan sosio-kultural dimasyarakatnya. Demikian bagi ruang seni yang juga berfungsi sebagai representasi kebutuhan pasar, tentu akan bergantung pada fluktuasi nilai dalam pasar. Tetapi, pada praktiknya realitas keduanya ini berlangsung tanpa saling terpisah. Identitas ini juga ditandai dengan munculnya kesadaran bagi pengelola ruang seni untuk membangun jaringan yang tidak terbatas dalam ruang lingkup lokal dan nasional, akan tetapi juga dalam skala inter-regional(nasional)

Saya kira, masa depan ruang seni perlu menyadari relasinya dengan keberadaan ruang-ruang seni yang lain. Sebab yang kerap kali terjadi adalah ruang seni satu dengan yang lain hampir memiliki kebutuhan representasi (platform) yang sama. Situasi ini tentu saja kurang efektif, sebagai solusinya, akan menarik bila ada sebentuk forum dialog antar pengelola ruang seni untuk melakukan sharing, sebagai ajang lintas-perspektif.

Keberadaan ruang seni selain ia merupakan situs eksposisi karya seni yang memiliki ekses ekonomi, dan dimensi simboliknya, ruang seni dalam ruang kerjanya bisa menjadi oase bertemunya berbagai aras pandang. Bagi saya, masa depan ruang seni bukan lagi sekadar mendorong apresiasi masyarakat yang diasumsikan pasif menikmati hasil-hasil kerja kreatif seniman. Akan tetapi adanya kesadaran untuk membangun hubungan dialogis yang berorentasi pada nilai transformatif antar pekerja kreatif (seniman), pengelola, dan subjek-publik. Dengan demikian publik bisa aktif terlibat dalam proses-proses dialogis-transformatif ini. Ruang seni tidak perlu khawatir kehilangan imajinasinya, sebab justru daya imajinasi inilah yang menjadi daya gerak transformasi.

Selamat datang Sangkring Art Space.

* tulisan ini merupakan edisi revisi yang seharusnya dimuat di buletin Sangkring Art Space, namun karena hal teknis, tulisan non-revisi yang termuat.

Advertisements

About this entry