[Esai Pameran] Bahasa Tanah Jenny dan Dona: Sebuah Percakapan

Pameran Jenny Lee dan Dona P Arrisuta
V-Art Gallery
Yogyakarta

Bahasa Tanah Jenny dan Dona: Sebuah Percakapan

Perkembangan keramik ekspresi (ceramic art) dewasa ini kian menarik, ditengah beragam wahana media ekspresi lainnya pada ranah seni kreatif Dalam kesempatan ini, saya ingin membagi pengalaman ketika beroleh kesempatan melakukan penelitian keramik ekspresi di sejumlah kota di Australia di 2007 ini. Beberapa kota yang saya kunjungi memang dikenal dengan tradisi keramik yang hidup, seperi Darwin, Adelaide, Melbourne dan Sydney. Itu sebuah kesempatan saya melihat ruang pamer, studio dan karya perupa keramik disana, sekaligus momen untuk berdialog dengan perupa keramik disana. Secara umum apa yang saya lihat disana bukanlah keramik dalam konteks industri massal, seperti pabrik penghasil tegel, perabot persolen, dan lain-lain, akan tetapi media tanah liat yang digunakan sebagai media ekspresi, sebagaimana kanvas dalam seni lukis. Kesadaran dalam memperlakukan media sebagai media ungkap ide dan emosi perupa memang telah lazim.

Yang menarik, eksistensi perkembangan keramik ekspresi disana sama nyatanya dengan dengan ranah perkembangan seni lukis, seni patung, seni grafis, hingga seni media baru. Keramik eskpresi tidak ubahnya dengan ranah seni rupa lainnya, menempati ranahnya secara intens. Ada ruang pamer khusus, toko, hingga jurnal, majalah, dan sejumlah pegiat wacana keramik, seperti peneliti, jurnalis, hingga kurator yang setia dengan ranah keramik ini. Perkembangan keramik ekspresi ini juga berkembang baik di Jepang dan Amerika misalnya. Penghargaan terhadap hasil pencapaian teknik dan kecenderungan estetis keramikus ini pun ada, melalui adanya berbagai penghargaan (award) atas keberhasilan teknik (kematangan dan variasi teknik glasir, permainan karakter tanah, kreativitas bentuk, hingga inovasi ide). Hingga, beberapa biennale keramik (even pameran dua tahunan keramik seni) pun bermunculan disejumlah negara dalam menandai perkembangan keramik seni ini.

Sementara itu perkembangan keramik ekspresi di Indonesia juga menarik bila diamati. Kita mengenal beberapa kiprah sosok seniman yang intens menekuni media tanah liat ini seperti Suyatna, Hildawati, Keng Sien, F.Widayanto. Kehadiran sosok ini juga berlanjut pada generasi berikut, antara lain seperti Dona dan Jenny yang mempersembahkan eksplorasi keramik seperti yang kita lihat sekarang ini. Perkembangan keramik ekspresi di Indonesia sayangnya tidak dilengkapi dengan majalah, jurnal, ruang pamer hingga even seperti biennale keramik yang menunjang secara khusus ranah keramik ini, kondisi ini tentu berakibat pada minimnya apresiasi intens terhadap jenis media ini. Padahal bila ditelisik, ada banyak hal yang menarik bagaimana media tanah liat ini digunakan oleh penggubahnya.

Kehadiran keramik ekspresi ditangan perupa ini memang berupaya menghadirkan pengalaman yang berbeda dengan keramik dalam konteks produk massal. Yaitu keramik yang lebih personal sifatnya. Ada semacam kegairahan untuk menyematkan pengalaman hidup perupa keramik pada media tanah liat ini. Hasilnya seperti yang kerap kita lihat yaitu adanya sejumlah jejak diri perupa dalam media tanah liat. Karya Jenny dan Dona ini menjadi contoh bagaimana proses impersonalisasi itu berlangsung. Kita melihat adanya aspek kecakapan teknik pembuatan, pengglasiran, hingga gubahan bentuk yang merespon media kanvas pada karya-karya mereka, mengapa tidak?

Apa yang teristimewa pada pameran ini? Mereka menampilkan media kanvas dan tanah liat secara serentak. Kita bisa menyaksikan bagaimana Dona dengan lentur menghadirkan elemen keramik di atas kanvas, ia juga menambah material lain seperti pot untuk keramik kaktusnya. Lihat pula karya Jeni yang menghadirkan media kanvas dalam pameran mereka berdua ini. Dua media hadir dalam pameran mereka. Mari kita lihat sisi keramik ini. Proses membuat keramik memang membutuhkan proses bertahap.
Bermula dari proses pencampuran tanah liat, penguletan, hingga pengeringan. Kerap kali, proses ini juga tidak berhasil. Seperti adanya keretakan. Proses berikut yaitu tanah liat ini dibakar lewat tungku. Pada tahap ini, nasib keramik bergantung dari api yang membuang oksigen dalam kandungan tanah, yang juga berfungsi mengeraskan struktur tanah liat ini. Proses ini juga mendebarkan, sebab ada kemungkinan berhasil, atau gagal, seperti retak atau ekstrimnya bisa pecah. Tahap lanjut yakni pengglasiran, dibutuhkan kemampuan mengenali sifat kimia bubuk glasir pada momen ini. Kemudian di etape akhir, tubuh keramik itu masuk tungku lagi untuk mematangkan glasir dengan temperatur suhu tertentu. Hati berdebar kembali terulang, karena nasib keramik lagi-lagi tergantung dari tungku ini. Para keramikus ini akan senang bila hasil jadi keramik sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi, acapkali melenceng dari bayangan awal, namun kadang itulah seninya?

Apa yang ingin saya katakan dalam kronologi proses di atas adalah ada waktu hening yang terbangun dari kompleksitas proses. Tanah liat laksana sebuah otoritas sendiri, kala material ini meminta waktu linear yang tak terbatas buat si penggubahnya. Disini bisa kita pahami, ada percakapan reflektif pada momen menunggu sang tungku,yang artinya si perupa ada diantara hukum rumus kimia, kuasa tungku dan kodrat alami cuaca.

Percakapan yang datang dari buah kesabaran yang dibutuhkan dari proses pembuatan keramik. Itu sebabnya, penekun keramik ini bisa dijumlah dalam hitungan jari di Indonesia. Menekuni profesi sebagai keramikis seperti menjumpai pertanyaan abadi:tentang siapa yang harus terlebih dahulu takluk, saya (si penggubah) atau kuasa teknologis media ini (tungku)?

Kemudian media keramik sendiri bukan sekedar matra yang selesai dipandang dalam pemahaman seni visual (visual arts) yang mementingkan sensibilitas mata (vision). Akan tetapi dalam media ini, ada jenis pengalaman lain, yaitu pengalaman tangan (craftmanship) sebagai bagian organ tubuh penggubahnya dalam menginderai, mengolah dan membentuk tanah liat. Ini bisa kita lihat pada karya Jenny dan Dona yang menampilkan dan menghadirkan sensasi vision dan craftmanship ini dalam waktu bersamaan. Disinilah, kesempatan kita untuk menikmati hasil pencapaian teknis dan artistik karya Jenny dan Dona ini. Di sisi yang lain, pameran ini sepertinya juga menepis anggapan bahwa keramik semata-mata berkutat pada segi fungsional. Pameran ini sekaligus merupakan pembuktian akan kemungkinan-kemungkinan kreatifitas baru dalam wahana media keramik.

Karya keramik mereka berkait dengan konteks teknologis yang ditandai dengan hadirnya industri keramik masal. Sebagaimana berkembangnya teknologi media rekam dan cetak yang melahirkan langgam estetika baru, yang dikenal kini sebagai seni media baru (new media art), maka karya-karya keramik ini juga merupakan buah dari pengalaman teknologis, yang tidak menutup kemungkinan untuk terus hadir dengan berbagai provokasi perupaan, yang mengejutkan, dan penuh daya pikat.
Dalam konteks lain, ranah seni kontemporer juga banyak melibatkan media keramik, misalnya, perupa kontemporer Cindy Sherman yang membuat teapot yang sengaja mengangkat isu domestifikasi perempuan. Kemudian Jeff Koons yang menggunakan porselen untuk mendapatkan citra kitch. Ini menunjukkan pemaknaan terhadap objek keramik ini beragam.

Seperti halnya sejumlah objek pada karya keramik Jenny, dimana ia mereproduksi benda-benda sehari rumah tangga. Juga tampak sosok-sosok perempuan, bahkan ada kepala perempuan yang hilang dalam sosok itu, adakah itu simbol suara yang hilang? “Karya-karya keramik dan lukisan saya banyak berbicara tentang keseharian seorang perempuan yang punya profesi sebagai ibu rumah tangga, isteri, dan seorang pekerja seni tentunya”, ungkap Jenny. Atau simak pula pada pernyataan Dona karya, pada Biarkan botol-botol ini berbicara yang merupakan sebuah refleksinya atas ritus sehari-hari seorang ibu. Katanya, “…dari menyiapkan makanan pagi, siang, malam, bekerja mencari uang, mencuci, seorang ibu melakukannya dengan sukarela, tanpa mengeluh (walaupun berat mereka hanya menyimpannya dalam hati).”

Pameran ini menuangkan kisah percakapan antar diri dan kehidupan mereka. Percakapan hening, dan terungkap melalui bahasa tanah, bahasa bumi yang menjadi sahabat kehidupan kreatif Jenny dan Dona.

(Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog pameran)

Yogyakarta, 7 Desember 2007

Advertisements

About this entry