[Esai Pameran] Genta dalam Ritus Air

Pameran Tunggal I Made Arya Palguna
“Ritus Air”
Srisasanti Gallery
Yogyakarta

Dengan cukup gamblang Palguna memberi jalan pada kita untuk melihat air di sejumlah karya-karyanya ini. Kegamblangan ini kian dimudahkan ketika Palguna menghadirkan berbagai ilustrasi peristiwa-perisitiwa yang berkait dengan air dan akrab bagi kita, diantaranya: tentang pemanasan global, bencana banjir dan lumpur. Peristiwa-peristiwa itu tidak lain adalah kejadian aktual yang kerap kita lihat dan dengar di berbagai media massa. Peristiwa-peristiwa itu mengandung zat mineral yaitu air. Pokok ini yang hendak Palguna sampaikan kepada kita dalam pameran tunggalnya yang bertemakan “Ritus Air”. Titik bidik air ini sengaja Ia ambil sebagai mula Ia menggambar ekspresi-ekspresinya atas berbagai hal yang menyentuhnya.

Kesetiaan pada Bentuk

Sepanjang pengamatan saya, Palguna tetap konsisten dalam caranya menghadirkan figur, binatang, dan lanskap. Demikian pula dengan caranya ia mengerjakan komposisi-komposisi bentuk. Saya kira, cita-cita hampir setiap pelukis adalah menemukan karakter tutur pada media kanvas. Palguna menyadari ini, “hampir sepuluh tahun aku menemukan teknik dan karakter seperti ini”, ujarnya disuatu kunjungan saya ke studio kerjanya. Kita bisa melihat sosok-sosok yang hadir pada bidang kanvas ini digambar tanpa perlu hadir secara realis. Luwes dan bervolume. Mata sosok itu diberi aksen putih. Gambaran anotomi demikianpun mengundang kesan jenaka, tampil dengan postur kikuk dan kenes. Begitu pula dengan caranya ia membangun lanskap sebagai latar belakang karyanya yang kebanyakan adalah alam. Hal yang juga ajeg terlihat adalah pada tekstur yang menghiasi komposisi bidang-bidang kanvasnya. Ini sebuah teknik tersendiri yang Palguna temukan untuk mendapatkan nuansa aristik pada karya-karyanya.

Gaya Estetis Palguna

Ada kekuatan ilustratif pada karya-karya Palguna ini. Disini kita bertanya, apakah kita bisa menyamakan kecenderungan ilustrasi Palguna dengan seni poster misalnya? Atau adakah Palguna sekadar asik bermain-main dengan aspek ilustratif saja? Sulit kiranya untuk menyejajarkan karya-karya Palguna dengan seni poster atau sekedar menilai kecenderungan ilustrasi pada karya Palguna sebagai bentuk yang mengejar aspek formalis semata. Lalu bagaimana kita memahami kecenderungan ilustrasi pada karya-karya Palguna?

Kita perlu melihat sejarah individu Palguna yang besar dari lingkungan masyarakat tradisi di Bali. Ia besar di Ubud, Bali, daerah yang terkenal memiliki sejarah tradisi dan religiusitas. Di daerah Ubud juga tumbuh dan berkembang seni tradisi hingga kontemporer. Palguna juga berkesempatan menekuni bidang seni sejak kecil hingga SMSR di Bali, lalu ia lanjutkan ke studio seni lukis FSR ISI Yogyakarta. Walau berbekal pendidikan modern ini, saya melihat kecenderungan ilustrasi pada karya-karya Palguna seperti menghidupkan dan meneruskan tradisi perupaan prasi bahkan mungkin tanpa sadar Palguna jalani.

Rupa ilustrasi paling awal di Bali adalah seni prasi yang merupakan ilustrasi visual pada lembaran daun lontar. Teknik pengerjaannya memerlukan ketrampilan khusus dengan cara dipahat. Tradisi seni prasi ini kemudian memengaruhi pola dasar kreasi lukisan wayang gaya Kamasan Klungkung. Ikonografi yang tampak pada seni prasti adalah wayang yang digunakan untuk melukiskan ajaran kebajikan agama Hindu. Pada kreasi pertama, seni prasi menarasikan dan memvisualisasikan perisitwa-perisitwa simbolik melalui epos Ramayana, Sutasoma, Tantri, Mahabarata dan beragam cerita rakyat. Kreasi kedua bisa kita lihat pada bagaimana perupa Klungkung memindah narasi-narasi itu pada lukisan yang kemudian kelak menjadi tradisi lukis gaya Kamasan Klungkung. Perluasan media ungkap dan teknik ini menjadi sebuah kreativitas tersendiri dalam mentransformasi narasi ajaran agama Hindu di Bali. Itu sebabnya, tradisi cerita bergambar atau gambar yang bercerita, dan ilustrasi mendapat tempat dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang luas di Bali hingga sekarang ini melalui media-media dan teknik ungkap yang beragam.

Citra Lain dari Spirit Prasi

Cara Palguna dalam mengekspresikan dan menyampaikan pesan-pesan ini serupa tapi tak sama dengan tradisi seni prasi. “Keserupaan yang tak sama” ini rupanya disengaja oleh Palguna. Ia memang menaruh minat dan ingin meneruskan tradisi seni Prasi ini. Bila pada seni Prasi dan gaya seni lukis Klungkung memiliki aspek dekorasi pekat dan ketajaman detail, maka pada goresan Palguna, pertama, kita bisa melihat adanya jarak antar objek, sapuan warna dan pengelolaan bidang komposisi yang seperlunya dan jauh untuk mendekorasinya secara penuh. Kedua, bila pada tradisi Prasi kita bisa menikmati bagaimana tetuah religi dan cerita rakyat , maka tema-tema karya Palguna pun cenderung menyampaikan sejumlah tetuah (personal statements) nya dalam merespon situasi aktual yang bersinggungan dengan alam, manusia, kemudian perihal kejeniusan dan religiusitas. Ketiga, keserupaan juga tampak pada komposisi pengaturan latar belakang dan depan yang serentak hadir sejajar (flat), nuansa ini mengaburkan perspektif jauh-dekat, tetapi justru ini yang dieksplorasi oleh Palguna, sebagaimana dalam gaya Kamasan Klungkung. Kempat, Salah satu penanda kuat dorongan empati Palguna pada warisan tradisi ini adalah pada abstraksi figur-figur dalam karya lukis Palguna seperti menyerupai wayang.

Inilah jalan estetik yang ditempuh oleh Palguna. Bila seni modern memisahkan diri dari lembaga religi dan kemudian mendirikan “fakultas” pengetahuannya (art world) sendiri, maka corak karya-karya Palguna ini membuktikan semacam bentuk percabangan (baca: pengalaman) yang lain, sebuah sikap estetik Palguna yang masih ingin merajut dialog” dengan leluhur, dengan warisan tradisi Prasi, dengan cara membahasakannya secara Palguna. Sebuah citra lain dari Prasi.

Genta Spiritual Palguna

Dengan cara menggunakan air sebagai metafora Palguna sedang merisalahkan keprihatinanya pada ambisi manusia yang ingin menaklukan alam, ambisi manusia yang ingin menguasai sesama dengan cara kekerasan. Ambisi-ambisi manusia ini didorong oleh tiadanya keseimbangan, absennya kontrol manusia pada azas keselarasan, dan hubungannya dengan sang Pencipta. Dari segi tematik, asas trasendental dan hubungan horisontal dengan sesama dan alam ini yang coba diingatkan oleh Palguna pada pentingnya melakoni aksis hidup yang berimbang.

Pandangan Etis Palguna bisa kita amati misalnya pada “Glass of Chamber” (2008) misalnya menampilkan sosok-sosok yang terkurung dalam rumah kaca. Tampak Figur laki-laki dan perempuan, ada yang tertunduk, dan seperti ada yang meronta dalam rumah transparan, “Karya ini terinspirasi dari keadaan yang tak menentu, kadang panas, kadang dingin dengan siklus tak menentui”, ujar Palguna. Dalam “In God Hand” (2008), nampak tiga buah helai daun yang berisi air dalam volume yang tak sama, pada lukisan ini Palguna ingin mengingatkan Tuhan yang mengatur pembagian air yang berbeda-beda ini. Palguna juga menaruh perhatian pada fenomena lumpur Sidoarjo, dalam “Swin Little Bear, Swim” (2008), karya ini sengaja ia buat sebagai simpati pada anak-anak didaerah bencana. Salah satu karya Palguna yang menantang penafsiran kita lebih jauh pada “Menjilat Hujan” (2008), Nampak sosok laki-laki itu menengadah ke langit, lidahnya menjulur dan mencokok air hujan. Tentang ini, Palguna bertanya: “bagaimana seandainya kita menjilat hujan? Asin tentunya, mungkin daripada menjilat ludah?”,

Selain seri lukisan, Palguna juga menghadirkan seri objek pada “Your Life Not in Heaven but in the Earth” (Mixed Media, 2008), nampak sebuah miniatur besar bola bumi yang terbelah dua, dan hanya tertopang puluhan garpu.Lewat karya ini Palgunas memandang bahwa dunia adalah tempat kita hidup, berjuang dan mencari makan. Sebab itu mestinya kita bisa menjaga dan melestarikan dunia ini. “ Hidup bukan hanya memikirkan dan berbuat untuk bekal di akhirat, tapi berjuang dan bertahan demi kelangsungan generasi penerus dimuka bumi ini”, katanya.

Objek yang lain adalah seri Objek terakota pada “Curse”, (2008).Palguna juga merespon kekokohan material terakota dan menggubahnya menjadi replika bak mandi modern. Didalam bak itu nampak deretan aksara ramalan yang berisikan proyeksi bila bumi tidak dijaga, maka akan ada banyak bencana datang. “Bak mandi ini saya lambangkan sebagai dunia. Dunia sebagai tempat kita membenamkan diri, menenangkan dan sejuk. Tapi, dunia makin lama makin tua. Dunia tentu mempunyai pesan-pesan yang harus dijaga dan dilestariakan. Jika dilanggar maka akan menjadi sebuah kutukan bagi keutuhan dunia”, demikian Palguna menjelaskan tentang karyanya yang ini.

Objek terakhir adalah “Santih (Damai)”, sebuah genta raksasa. Dalam genta ini Palguna akan mengisinya dengan aksara-aksara dan menyilahkan kita untuk mendengarkan bunyi doa didalam genta. Genta ini biasanya digunakan dalam upacara-upacara religi. Sebagai penanda dan dalam tujuan tertentu suara genta adalah sebuah peringatan, pengingat bagi siapapun yang menghuni alam semesta. Barangkali objek ini merupakan genta spiritual Palguna, genta yang juga diperlukan bagi siapapun yang alpa.

Yogyakarta, 9 July 2008

Advertisements

About this entry