[Esai Pameran] Menapak Jalan Bertelur

Pameran Residensi “Landing Soon”

Perupa Belanda: Maarten Schepers

Cemeti Art House
2008

Maarten Schepers menaruh perhatian tentang cahaya di kota Yogyakarta. Ketertarikannya pada aspek cahaya inilah yang menjadi salah satu fokus penelusuran kerja residensi Maarten. Ia menggunakan kamera untuk mengumpulkan (to keep) informasi dan mendapatkan berbagai inspirasi. Perhatian pada cahaya ini bermula ketika Ia terkesan pada intensitas cahaya di kota Yogyakarta yang baginya temaram. Ini ditandai oleh penerangan yang Ia lihat di sejumlah jalan perkampungan di sekitar studio Cemeti pada malam hari. Mengapa Yogyakarta begitu redup? Apakah penghuni kota ini tanpa sadar memiliki sebuah penghayatan tersendiri untuk membiarkan dirinya dibasuh oleh intensitas cahaya yang minim?

Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong Maarten untuk membuat serangkaian eksperimen tafsir di atas meja dan dinding kerjanya. Konstruk dasar secara fisik karya Maarten selalu bersandar pada objek pengamatannya pada bentuk visual sebuah lanskap daerah. Sejumlah karya-karya terdahulunya sebagian besar merupakan respon atas bentuk-bentuk lanskap ini. Ia memperhatikan pola-pola dasar utama lanskap, melihat hubungan konstruksi lanskap dengan “berbagai wacana” yang membentuknya.

Dalam suatu kesempatan wicara, ia bercerita mengenai konstruk lanskap bangunan di Belanda yang baginya begitu datar. Maarten memberi contoh, di Belanda misalnya, bila kita menempatkan benda atau sesuatu di dalam atau di atas permukaan tanah akan bisa dilihat atau terkesan seperti sebuah sosok patung. Dan ini berbeda dengan pengamatannya atas lanskap di Indonesia yang baginya berbeda. Baginya, lanskap di Indonesia, khususnya di Yogyakarta terbentuk secara natural, Ia melihat bagaimana tetumbuhan di Indonesia hidup berdampingan dengan berbagai komposisi dan pergerakan bangunan, furnitur jalanan, iklan-iklan, dan lain-lain. Maarten tertarik pada perbedaan yang Ia lihat ini dan menjadikannya sebagai bentuk dasar karya-karyanya.

Pada suatu malam Marten berjalan kaki di sepanjang jalan Tirtordipuran. Ia melihat sebuah rumah joglo Jawa dengan halaman yang baginya terlihat aneh, gelap dan seperti berhantu. Ia tertarik mengapa rumah itu begitu gelap dan suram bahkan disiang hari sekalipun. Sebagai tetangga rumah Joglo itu, Maarten terinspirasi untuk menerangi rumah Joglo itu. Untuk merealisasikan ide ini, Maarten kemudian berkenalan dengan bapak Hardjo Sudiro, pemilik rumah Joglo itu. Dan atas seijin pemilik rumah, Ia menaruh tujuh belas “kotak cahaya”, yaitu tujuh belas lilin dalam tujuh belas keranjang bambu. Rumah dan halaman itupun menjadi lebih terang.

Untuk mengisi waktu residensinya Maarten melakukan praktik kerja yang intens. Ia merajut himpunan bola-bola plastik. Bola-bola ini berwarna-warni. Bola-bola ini didapatnya dari toko mainan yang tersedia murah di Yogyakarta. Martin terus mengeksplorasi bola-bola ini sampai kemudian ia menghimpunnya menjadi satu komposisi bentuk di letakkan di atas sebuah becak. Bola-bola itu diterangi oleh kekuatan cahaya elektrik yang membuat bola-bola itu bersinar sesuai warnanya. Karya ini menghadirkan becak, himpunan bola dan sosok si Pengayuh becak. Seperti caranya Maarten menerangi rumah Joglo itu, Inspirasi karyanya ini berasal dari pengamatan Maarten pada sosok kendaraan becak yang tak begitu kentara pada malam hari, sebab itu Ia ingin meneranginya dengan menaruh sejumlah “bola-bola cahaya” ini.

Ia pun ingin menerangi halaman studio Cemeti, Maarten lalu membuat kotak cahaya di pagar halaman studio. Berbeda dengan bentuk kotak cahaya di halaman rumah Joglo itu, kotak cahaya di pagar itu menyerupai corong pengeras suara mesjid yang terbuat dari keranjang bambu. Inspirasi kotak cahaya ini berasal dari suara adzan pengingat waktu sembahyang (sholat) yang Ia dengar lima kali dalam sehari selama masa tinggalnya di studio Cemeti.

Perhatiannya pada transisi dan paradoks tradisi dan modernitas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Yogyakarta ini di wujudkannya dengan sosok meja yang hadir dengan ketinggian di atas rata-rata ukuran meja makan. Meja itu nampak kokoh dan necis. Diatas meja itu Ia menaruh sejumlah piring kaca klasik, disebalik piring itu bertulis “made in Indonesia” dan memiliki dekorasi tradisional. Masing-masing piring itu eksis di atas sebuah lobang. Dan lobang-lobang itu diterangi oleh cahaya temaram. Marteen sengaja menghadirkan metafora simbol-simbol tradisi yang ditunjukkannya dengan piring, bentuk modern pada meja itu, dan memberinya sedikit cahaya pada piring-piring itu.

Kerja seni bagi Maarten adalah tiadanya jarak antara konstruk media dengan sejarah budaya yang membentuknya. Justru baginya, sejarah budaya ini menjadi bagian penting dalam memutuskan sejumlah eksekusi-eksekusi bentuk akhir karyanya. Kita bisa melihat bagaimana Marteen tertarik untuk memahami sejarah sosial, tempat, ruang dan cahaya dalam konteks budaya di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Ia melihat bagaimana entitas tradisi, modernitas dan religi berkelindan dalam kehidupan sehari-sehari di masyarakat Yogyakarta.

Bagaimana berbagai entitas itu berkelindan nampak pada sebuah model rumah berbanding 1: 1 bernama “House of Eggs”. Rumah itu berdiri kokoh tanpa bekas dekorasi sebagaimana kerap kita jumpai di rumah-rumah tradisional di Jawa. Ia cukup menghadirkan kontur rumah dengan dua eksisten pintu yang berhadap-hadapan. Tepat di tengah ruangan puluhan butir telur tergelar. Ini bukan telur plastik, tetapi telur sungguhan. Muncul peraasan ragu, cemas dan khawatir bila menapaki jalan di antara dua pintu ini. Pengunjung karya ini sebagian besar memilih untuk tidak menyebarangi jalan yang dijejali oleh telur-telur ini. Suasana ditengah ruangan pun temaram.

Rumah itu hanya diterangi oleh lampu berkekuatan rendah. Di dalam rumah itu nampak terlihat dan tercium aroma hangus. Maarten seperti memberi isyarat mengenai filosofi rumah di Jawa yang baginya memerlukan sebuah kehatian-hatian, kewaspadaan, dan sikap mawas diri untuk hidup di dalamnya. Simbol rumah ini seperti sebuah kontras kehidupan modern yang ditandai dengan bentuk modern bangunan itu dan budaya tradisi yang ditandai dengan sejumlah telur, warna kecoklatan pada dinding dalam dan aroma hangus. Simbol telur ini seperti sebuah peringatan bahwa berjalan itu perlu njinjit alias hati-hati. Di Belanda ada pepatah “don’t walking on eggs”.

Modernitas yang ditandai oleh percepatan irama hidup menemui paradoksnya dengan tradisi yang mengutamakan kehati-hatian dalam gerak. Marteen menampilkan gagasan itu pada sebuah keranjang bambu tradisional yang mencuatkan berbagai balok yang menyerupai miniatur bangunan pencakar langit. Aksen bangunan yang kokoh dan tegas ini hanya bertopang empat ekor kura-kura plastik. Metafora ini seperti ingin menggambarkan bagaimana laju modernitas dalam topangan kehidupan tradisi berjalan merambat, pelan dan hati-hati.

Sebagai perupa yang tumbuh dan besar di Eropa, kerja seni dalam masa residensi menjadi pengalamannya dalam menghayati pengalaman tiga bulannya mengenali proses-proses perubahan sosial dan budaya di kota Yogyakarta. Sebuah kota dimana cahaya pengetahuan (logos) hidup berdampingan dengan sejumlah misteri (mitos) yang masih tumbuh, hidup dan acapkali diantara keduanya saling bertukar tempat. Yogyakarta seperti didesak oleh proses perubahan yang begitu cepat, namun laju perubahan ini seperti menapaki sebuah jalan bertelur.

(Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog pameran)

Advertisements

About this entry