[Esai Pameran] Merunut Jejak, Membuat Tekstur

Pameran Residensi “Landing Soon”

Perupa Belanda: Ellen Rodenberg

Cemeti Art House
2008

Ellen Rodenberg saya kira tidak sekadar bermain-main dengan puluhan benda-benda yang kumpulkannya selama masa residensinya di Jogja. Begitu pula dengan caranya menempatkan berbagai jenis mainan plastik seperti miniatur prajurit, tank, mobil, motor, lanskap, bendera, dan lain-lain di meja kerjanya. Caranya hampir mirip dengan kegirangan anak kecil yang memungut, mengambil, dan menempatkan apa saja yang disukai di tempat-tempat kesukaannya. Inilah langkah pertama Ellen setelah mendarat di Jogja yaitu mengumpulkan berbagai benda-benda yang ia anggap menarik.

Ada yang menarik dengan cara perupa kelahiran Amsterdam, 1955 ini dalam membagi wilayah bermain antara dirinya dengan anaknya. Yaitu ketika meja kerja Ellen bersebelahan dengan ruang bermain anak-anaknya. Besar kemungkinan kita (orang dewasa) terkecoh oleh sebab ragam mainan dan benda-benda yang dikumpulkan Ellen dan anaknya kurang lebih sama. Ellen lantas memberi tahu mana yang merupakan wilayah bermain anaknya dan dirinya. Pembagian wilayah ini membuktikan Ellen tidak sekadar bermain-main. Di atas meja kerjanya Ellen sibuk membongkar-pasang, menukar-tempat benda-benda tersebut. Dan juga Ia berupaya mengindentifikasi dan mengenali makna atas simbol benda-benda itu. Pada titik ini, Ellen melakukan sebuah kerja riset historis, yaitu mengenal dan mencari informasi atas benda-benda itu yang Ia perlakukan sebagai catatan kaki.

Ada dorongan besar dari alumnus Koninklijke Academie Ban Beeldende Kusten, Den Haag ini untuk merunut sejarah benda-benda ini. Misalnya, simbol bendera swastika, sebuah simbol Nazisme yang begitu mencekam dan menakutkan di masa rezim Hitler. Namun bukan lagi makna dominan itu yang hendak Ellen cari, tetapi Elen justru berfokus pada kontras-kontras makna dan relevansinya dengan pengertiannya yang berkembang dan dipakai pada konteks-konteks berbeda. Misalnya swastika merupakan sebuah simbol devosional bagi penganut agama Hindu. Kontras dan kontradiksi makna inilah yang menjadi pangkal tolak Ellen untuk meneruskan proyek kerjanya. Ia sengaja memusatkan perhatian kerjanya pada keragaman perspektif atas sebuah simbol.

Intinya, Ia seperti ingin membuktikan bahwa suatu simbol bukan semata-mata milik sebuah golongan, bahasa dan wacana tertentu, tetapi suatu simbol bisa jadi memiliki suatu pengertian, penggunaan dan ritus berbeda bagi konteks-konteks pengalaman yang berbeda. Latar belakang Ellen dari studio seni lukis ini menjelaskan bagaimana cara kerja Ellen memandang benda-benda ini dalam persepsi dua dan tiga dimensional. Pada titik ini Ellen saya melihat kekhasan bahasa rupa Ellen. Saya kira pengalaman Ellen dalam mengerjakan eksplorasi yang tak lazim ini membuka kesempatan berharga pada pentingnya mengerjakan sebuah proses dibalik sebuah hasil akhir. Kemapanan konvesi seni lukis yang seolah merupakan kerja dua dimensional di penampang kanvas (vision) seperti dibuyarkan lewat proses eksplorasi (experience) Ellen ini. Baginya proses merupakan kekuatan mendasar dari sebuah bentuk akhir.

Ia mencontohkan bagaimana sebuah miniatur lanskap yang terdiri atas komposisi bendera-bendera itu perlu dilihat pada dua aspek visual ini yaitu: sisi datar dan sisi tiga dimensi. Kerja seni Ellen ini adalah sebuah lukisan pemikiran dan penghargaan atas intuisi, antara pemikiran dan jiwa. Terkadang caranya Ia mencomot benda-benda yang dijumpainya begitu saja secara intuitif tanpa perlu intensitas pengamatan. Bentuk akhir dari proses kerja Ellen di ruang pamer Cemeti Art House ini hadir dengan rupa instalasi. Itulah lukisan Ellen. Bukan lukisan dalam bentuk dua dimensional, akan tetapi tampil dengan wujudnya yang meruang dan bervolume. Di sana, nampak berbagai komposisi-komposisi benda-benda tergelar. Ada yang tetap dalam bentuk miniatur dan ada yang telah mengalami pembesaran skala.

Dragon Ball, sebagai sebuah tokoh hero rekaan komik dari Jepang ini hadir seukuran bocah kecil di empat sudut simulasi arena yang dibuatnya. Tokoh Dragon Ball dan sejumlah benda-benda lainnya diambilnya dengan pertimbangan bahwa figur itu merupakan sebuah figur kartun dan berasosiasi pada simbol kekuataan, atau bisa bisa dibaca pula sebagai sebuah metafor kekuasaan.

Proyek Landing Soon ke tujuh ini memancing hasrat Ellen untuk mengenali, memahami, atau lebih tepatnya bermain-main dengan persamaan dan perbedaan simbol-simbol budaya. Waktu tiga bulan tentu begitu singkat untuk mengenali budaya di Jogjakarta sebagai bumi Mataram yang memiliki sejarah panjang dalam sejarah persilangan antar tradisi Jawa, berbagai religi dan pembentukan tatanan modernitas. Yang unik tentu saja bagaimana kolonial Belanda dahulu pernah mengoloni Jogjakarta di masa silam, dan artefaknya masih tersisa hingga kini melalui arsitektural gedung, bahasa, dan berbagai praktik budaya. Masa lalu ini disadari oleh Ellen yang notabene berasal dari negeri Belanda, suatu negara bagian Eropa yang memiliki sejarah masa lalu yang juga kompleks. Perbedaan, persamaan dan berbagai hubungan di masa lalu ini membentuk semacam ingatan kolektif yang akan dikenang, dilupakan, dan bahkan menjadi tanda yang siap dekonstruksi maknanya. Tanda ini berupa simbol-simbol yang bisa jadi pada masa lalu bermakna luhur, berwibawa, kudus, tetapi kini menjadi simbol yang justru berlawanan artinya.

Simbol merupakan bentuk paling artikulatif dari sebuah cara pandang atau ideologi. Pemakaian simbol dalam masyarakat seperti sebuah ikatan yang tak terpisah. Kehadiran simbol-simbol ini sekaligus sebuah cara untuk menamai, mengidentifikasi dan menandai sebuah eksistensi. Kebutuhan untuk menghadirkan simbol ini juga setua peradaban manusia: homo symbolicum. Selama masa kerja residensi nya di Jogja ini, Ellen seperti sadar untuk mengenali sebuah tempat, ruang dan budaya yang baru baginya adalah dengan cara mengeja berbagai jejak-jejak simbol. Mengeja antara mana simbol yang bersifat universal, misalnya seperti pada simbol popular seperti Dragon Ball yang siapapun mengenalnya tanpa peduli batas teritori dan ideologi negara. Selain simbol universal ini, Ellen mengeja simbol-simbol yang digunakan secara aktif dalam konteks lokal di Yogyakarta ini. Ini terlihat misalnya pada dokumentasi foto dan video Ellen yang merekam berbagai monumen, lanskap, tanaman, binatang dan orang-orang yang baginya memiliki potensi simbolik sama dan berbeda. Proses perekaman ini tidak saja di Jogjakarta, akan tetapi saat Ia melakukan kerja presentasi dan kunjungan di kota Solo dan Semarang.

Simbol dalam konteks pencarian Ellen ini ibarat seperti sebuah jaring laba-laba. Bahwa simbol eksis di dalam sebuah struktur dan dialami secara kultural. Satu simbol seperti sebuah catatan kaki atas sebuah gugusan suprastuktur. Saya kira, sampai disini Ellen berhenti. Ia cukup mengantarkan kita pada wajah dari stuktur simbolik ini. Mungkin lebih tepatnya adalah tekstur simbolik. Sebagai tekstur ia menjadi sebuah komposisi. Kita bisa melihatnya ini pada sejumlah bidang-bidang lukisan dua dimensionalnya. Disana nampak berbagai coretan warna, sejumlah garis-garis, yang membentuk kontur-kontur simbolik tertentu.

Apa yang mau dicari oleh Ellen ini melalui proses panjang dan melibatkan aktivitas tafsir-menafsir dan pengkopian berbagai tanda ini? Saya kira, Ellen seperti seorang peziarah. Dibalik metodenya untuk mengenali tempat dan budaya yang baru baginya justru berlangsung sebuah proses berbalik, Ia seperti ingin mengenal dirinya sebagai “tanda baru” dalam berbagai bentuk permainan bahasa yang terus berlangsung dan selalu dalam proses menjadi.

(Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog pameran)

Advertisements

About this entry