[Esai Pameran] Rekreasi Tanda-Tanda

Pameran Tunggal
Farid Stevi Asta
“Dynamic Duos”
Langgeng Gallery, 2008

I like boring things
-Andy Warhol

Festival Kesenian Yogyakarta, 2007. Farid Stevi Asta membuat kotak berukuran 150 x 20 x 30 cm . Seperangkat alat kerja terlihat berserak di atas bidang itu: kaleng spray paint, sendok, mainan keyboard, roll cat tembok, kuas, masker, masking. Kotak dari bahan plexy glass ini mengeluarkan cahaya putih dari semprotan lampu disebaliknya dan menjadikan berbagai objek diatas bidang putih menjadi sebuah siluet tersendiri. Inilah karya objek pertama Farid berjudul “Teman Bermain” yang dinikmati pemirsa luas dalam even tahunan Yogyakarta ini. Objek-objek ini tidak lain adalah benda-benda yang hadir dalam kamar kerja ‘Farid’ Stevy Asta. Benda-benda ini adalah alat produksi karya seni. Farid dengan sengaja memindah media artistik justru pada alat produksi artistik. Bagi saya karya ini mengesankan, suatu ‘kejujuran’ untuk tidak ingin memproduksi citra baru, tetapi lebih memanfaatkan benda-benda sehari-hari. Seperti mengolah kebosanan estetik yang justru menjadi inspirasi segar.

Biennale Yogyakarta “Neo Nation” 2007. Sebuah lukisan dengan latar belakang dekorasi. Tepat ditengah lukisan itu muncul teks bertulis: “The Future Starts Now”. Judul lengkap karya itu “History is Dead, The Future Starts Now”. Karya ini mengulang kembali kejutan karya Farid saat FKY. Yang kali ini hadir dengan teks yang memancarkan daya provokasi. Teks menjadi penanda waktu. Ia memotong kontinum waktu dulu, kini, dan memanggil masa depan untuk hadir pada kekinian sekarang ini. “Masa depan tiap-tiap orang dimulai atau tergantung dari apa yang mereka kerjakan sekarang”, ujar Farid. Bila pada karya “Teman Bermain” Farid menggeser kelaziman artistik dari media ke alat produksi, pada karya di Biennale ini Ia memindah imajinasi masa depan ke masa kini.

Di sebuah pesta sekolah sebuah SMA di Yogyakarta, Farid menutup serangkaian band-band sebelumnya dengan penampilan bandnya: Jenny dengan sebuah hits “Mati Muda”. Remaja-remaja yang berserak lalu mengerumun tepat dimoncong panggung. Ini adalah lirik lagu yang segera akan menjadi sebuah reffrain yang dikenal oleh basis fans Jenny. Lagu ini memberi tekanan pada waktu biologis. Bukan masa kecil atau masa tua, namun pada masa muda. “Semoga matiku, mati muda”, satu penggalan lirik ini mengguncang kita, mengapa harus mati muda? Lirik ini mengingatkan kita pada beberapa ikon dunia yang meninggal saat usia muda: Sid Vicious , Jean Michel Basquiat, Jim Morrison, Kurt Cobain, dan lain-lain. Mereka mencetak prestasi luar biasa, dan mengakhiri usia mereka di usia muda dengan cara tragis. Tentu lagu itu tidak ingin mengajak anak muda mati konyol, namun lagu itu ingin memberi intonasi pada pentingnya melakukan banyak hal pada usia muda.

Tiga sekuen kreatifitas Farid ini bagi saya menjadi jalan untuk memahami bagaimana cara Farid bekerja dengan memperhatikan ikon historis dan karya yang dianggapnya memilik daya ubah. Ikon historis dan karya yang memiliki nilai propaganda dalam mengubah sejarah, masyarakat dan seseorang. Pesona ikon dan karya ini adalah simbol inspirasi oleh sebab kekuatannya dalam membuka berbagai cara berkespresi dan pengucapan baru dari ortodoksi yang mengungkung. Melahirkan penciptaan-penciptaan baru dari tekanan tradisi dan modus konvensional. Lantas, apa yang mau dicari? Ini yang menarik. Jenis pencarian-pencarian ini tidak lagi mengerjakan narasi-narasi besar, namun ingin melebur dalam pesona tanda. Terutama pada pentingnya efek sebuah tanda.

The most exciting attractions are between two opposites that never meet.
– Andy Warhol

Dalam pameran ini Farid melibatkan interaksi sejumlah perupa muda yang telah memantapkan karir mereka sebagai generasi perupa yang menjelajahi berbagai efek tanda ini, antara lain: ‘Wedhar’ Riyadi, ‘Wimo’ Ambala Bayang, ‘Iyok’ Prayogo, Eko ‘Codit’ Didik Sukowati, Uji ‘Hahan’ Handoko, Riono Tanggul ‘Tatang’ Nusantara, ‘Terra’ Bajragosa, Hendra (Blangkon) Priyadhani, Indieguerillas, ‘Yuvita’ Dwi Raharti, dan Ermambang ‘Bendung’ untuk melakukan interaksi kerja. Memilih sejumlah fokus-fokus figur yang dianggap punya efek kuat dalam pembentukan budaya urban, budaya anak muda, budaya popular seperti pasangan legenda dunia yaitu seniman fluxus Yoko Ono dan vokalis The Beatles, John Lennon, Vokalis band Punk Inggris, Sex Pistol : Sid Vicious dan pasangannya Nancy Spungen, presiden pertama Indonesia Sukarno dan ‘teman dekatnya’ Marilyn Monroe, sosok pegulat Nacho dan petinju Muhammad Ali, kisah film Beauty and The Beast, komedian kartun: Beavis and Buthead, band Ramones.

Mereka adalah idola-idola, referensi-referensi yang memilki efek tersendiri bagi kalangan peserta interaksi ini. Nyaris semua referensi ini sebagian besar adalah ikon barat. Dalam projek interaksi ini Farid melakukan kerja bersama dengan para interaktor ini untuk merespon para figur. Sebuah interaksi yang penuh kejutan. Semua menanti seperti apa hasilnya, namun bagi Farid, justru disini letak kenikmatannya. Lalu apa hubungannya para figur dunia itu dengan mereka yang tinggal disini?
Pertanyaan ini mungkin tidak relevan dalam melihat dunia yang kini telah begitu mencair. Apa yang terjadi di Milan, New York, London, Paris dengan cepat akan dikenal disini. Sebaliknya apa yang terjadi di Yogyakarta dan kota-kota lain dengan cepat akan diketahui oleh dunia. Dalam dunia yang mencair ini pasar menjadi begitu terbuka, ia tidak saja merupakan pasar komoditi akan tetapi juga pasar gagasan. Orang kini begitu mudah untuk melahap apa saja yang disukai dari tren musik, fesyen hingga berbagai pemikiran para tokoh.

Once you ‘got’ Pop, you could never see a sign again the same way again. And once you thought Pop, you could never see America the same way again
-Andy Warhol

Dunia yang kian mencair itu kian menentukan cara kita mengada. Globalisasi bertumpang tindih dengan keragaman budaya di Indonesia ini menyebabkan cara pandang dan identitas kita tidak tunggal dan sedemikian bercampur-baur. Kemencairan ini disebabkan oleh badai informasi yang menjadi ciri kebudayaan sekarang. Kalau saja kecepatan informasi dalam satuan byte itu berbentuk visual, maka udara kita bagaikan dipenuhi oleh kilatan-kilatan informasi, seperti untaian kode dalam film Matrix. Apakah corak globalisasi kini menciptakan segala sesuatu menjadi seragam?
Dalam berbagai kerja kreatif, dan seperti apa yang dikerjakan oleh Farid ini menunjukkan cara mengalami globalisasi ini dengan lebih produktif. Globalisasi justru menjadi peluang untuk menunjukkan otentisitas ekspresi. Globalisasi menghasilkan proses berbalik yang unik dan cenderung rekreatif tanpa memusingkan apakah ini peniruan, kutipan, comotan, bahkan pencurian tanda. Artinya, tanda yang dicomot difungsikan dengan arti dan cara berbeda. Di sini status tanda yang dicomotpun menjadi tidak sama dilihat. Konten karya Farid dan musiknya tetap berangkat dari kesadaran eksistensial dan situasi hibriditas budaya ‘ala Indonesia’. Selalu ada konteks-konteks lokal yang tidak sama walau citra yang digunakan menggunakan bahasa popular.

Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works
-Steve Jobs

Dengan latar belakang Desain Komunikasi Visual ini Farid familiar dengan pesona “citraan popular” yang menjadi jantung dari pembentukan selera zaman. Sejak kita bangun hingga tidur dalam satu hari sesungguhnya mata kita melahap ratusan hingga ribuan tanda setiap harinya. Desain memberi pencitraan bagaimana kita meresepsi sesuatu. Sejak dari kamar, jalanan, pusat perbelanjaan, hingga kembali ke kamar. Apa yang menarik bagi saya adalah pengalaman Farid dalam berurusan dengan industri pencitraan popular ini memengaruhi bagaimana caranya memperlakukan dan memfungsikan referensi tanda. Dunia ini sudah terdesain. Keberhasilan desain bukan pada bentuknya lagi, namun sejauh mana desain itu berfungsi dalam kehidupan.

Latar belakang desain Farid menjadi modal bagaimana Ia sensitif pada struktur desain yang telah ada dan bagaimana Ia harus menampilkan tanda dengan caranya yang lain. Misalnya pada karya “Teman Bermain” memperlihatkan kepiawaian Farid dalam memberi daya lebih pada citra benda di kamar kerjanya. “The Future Starts Now” misalnya, memberi penegasan kuatnya teks sebagai pesan yang mengubah cara pandang kita melihat sesuatu. Demikian pula yang terlihat pada sejumlah karya-karyanya dalam pameran ini yang menampilkan corak pop dengan kontur pembentuk berbagai figur dalam karya-karyanya.

Betapapun dalam pameran ini sejumlah tanda-tanda berseliweran dari berbagai arah historis dan geografis, tanda-tanda itu menjadi lain maknanya dalam semangat rekreatif ini. Tanda-tanda itu ditangkap dan berubah menjadi sinyal baru dalam menandai semangat jaman Farid dan para interaktor dalam pameran ini.

(Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog pameran)
Yogyakarta, 13 Desember 2008

Advertisements

About this entry