[Esai Pameran] Titarubi, tentang Tubuh yang Hilang, dan melahirkan Narasi Yang-Lain

Pameran Tunggal Titarubi
“Her Story”
Bentara Budaya Jakarta

…Tubuh yang kita alami adalah tubuh yang kita terima begitu saja sejak lahir sebagai biologis maupun kodrati, perempuan maupun laki-laki, normal maupun cacat. Tetapi Tita melepaskan semua deskripsi imanen ini lalu menjadikan tubuh sebagai media untuk menyampaikan berbagai pesan, melakukan disposisi antara tubuh dengan ruang, obyek lain atau tema-tema yang masih direproduksi dalam kehidupan publik…

(Afrizal Malna, Upacara Metaforis Tubuh, katalog pameran tunggal Titarubi “Se(tubuh)”, benda art space, 2002)

Tulisan epilog ini sama sekali tidak berhasrat menutup atau menyudahi tafsir kita atas karya-karya Titarubi. Tulisan ini lebih pasnya sekadar sebuah pembacaan lepas. Sejak kurun awal tahun 2000-an hingga pameran tunggalnya di Bentara Budaya Jakarta ini, Titarubi aktif menggelar karya-karyanya. Berbagai catatan mengenai kerja kreatifnya hampir menyatakan hal yang senada, yaitu salut atas kerja keras merupanya diberbagai media ungkap. Di tahun 2002, untuk pertama kalinya, Titarubi mempersembahkan pameran tunggal “se(tubuh)” di Benda Art Space, Yogyakarta. Ia melibatkan banyak media, terutama keramik, dan rangkaian sejumlah material pendukung. Kehadiran karyanya berbentuk dan berpendar dalam skala besar dan kecil, ia meletakkannya di dinding, di atas lantai.

Ia tidak bekerja sendiri, akan tetapi sejumlah mitra-kerja pun ia libatkan untuk mengejewantahkan apa yang ia bayangkan tentang “se(tubuh)”, sebagai tema pameran tunggalnya kala itu. Seiring dengan waktu, beragam perhelatan pameran Ia ikuti, baik nasional hingga internasional. Satu hal yang selalu mengesankan saya pada proses kekaryaan Titarubi adalah pada totalitasnya dalam menggarap karya-karya, sabagaimana Ia menseriusi sejumlah kegiatan-kegiatan sosialnya, hingga rekan-rekan menyebutnya sebagai artivist (artist-activist).

Tubuh yang Hilang

Alia Swastika, kurator pameran ini telah mengantar kita untuk bisa melihat, antara lain, tentang perihal tubuh, yang memang menjadi subject-matter utama karya-karya Titarubi. Dan saya kira pameran ini merupakan momen penglihatan yang langka, oleh sebab, lewat even ini kita berkesempatan melihat karya-karya lengkapnya, di sepanjang periode pameran demi pameran yang Ia pernah buat. Tita sendiri tak jenak untuk menyebut pamerannya ini sebagai retrospeksi, walaupun baginya karya-karyanya ini merupakan kumpulan dari beragam karya yang pernah dipamerkan, tetapi bagi Tita, pameran tunggalnya ini adalah tetap sebagai bagian dari kekaryaanya yang akan terus berproses.

Dalam sebuah percakapan, Tita berkeinginan untuk menelusuri pencarian atas dirinya. Ini satu bagian penting yang saya kira perlu dilihat dari refleksi keseluruhan proses kekaryaanya ini. Yaitu sebuah proses perjalanan ulang-alik: sebuah proses kembali untuk melihat ke dalam (looking inward), setelah Ia banyak berbicara tentang hal diluar dirinya (looking outward). Boleh jadi, kali ini sebenarnya Titarubi ingin memandang karya-karyanya dengan sebuah jarak yang kini ia anggap cukup.

Tubuh-tubuh dalam karya Tita seperti jejak yang membekaskan segala bentuk narasi diatasnya, sekaligus sedapat mungkin Ia memunculkan dimensi yang sedang Ia cari. Dengan proses yang demikian, karya-karyanya seperti sebuah dua sisi koin, pertama, Ia sesungguhnya tengah menarasikan bagaimana Ia ingin membentuk historisitasnya sendiri, kedua, karyanya menjadi cermin atas tubuh-tubuh kita sendiri. Dari sisi cermin ini, saya kira kita diberi kesempatan untuk melihat chaos atas tubuh kita sendiri, sebagaimana tubuh-tubuh dalam karya Titarubi adalah sosok-sosok yang secara gestural bisa hadir dengan berbagai bentuk yang tak lazim: bertorehkan aksara-aksara, figurasi bentuk tubuh yang mengecil dan membesar, dan bahkan tak lengkap (kita bisa kritis bahwa tubuh kita sesungguhnya selalu bergantung dari berbagai bangunan pengetahuan).

Sebagai perupa yang banyak bekerja dengan materi dominan tubuh, alumnus FSRD ITB ini memulai proses kekaryaanya dengan cara menginisiasi “tubuh”nya sendiri, tubuh yang terlanjur diamini diberbagai kemapanan cara pandang. Ia menggarap tubuh dalam refleksi keluar, yaitu manakalaTitarubi memperlihatkan beragam tubuh-tubuh yang dironde (dikonstruksi) dengan tatanan bentuk komposisi yang apik (seperti sebuah ledekan atas komodifikasi tubuh). Dan terkadang Tita menciptakan tubuhnya dalam situasi yang sublim, yaitu saat ia merasa tidak terpisah lagi dari tubuhnya. Apa yang bisa saya lihat dalam proses demikian, bahwa seperti ada desakan dari dalam diri Titarubi untuk tergerak mencari tubuh-tubuh yang hilang dalam kehidupan publik—sebagaimana diingatkan oleh Afrizal Malna dalam kutipan diatas.

Melahirkan Narasi Yang-Lain

Umumnya, kegelisahan seniman adalah ingin terus meloloskan dirinya dari jerat bahasa. Mirip seperti sabun, semakin erat kita menggenggamnya, semakin luput. Disini bahasa menjadi seperti kerdil, barangkali bahasa tak cukup lagi mewakili apa yang sesungguhnya ingin dituangkan seniman. Izinkan saya untuk mengatakan Titarubi seperti sabun ini, Ia selalu terpacu untuk meloloskan pengalamannya, yang tidak akan cukup disimplifikasi begitu saja. Bagi saya, karya-karyanya menjadi jalan untuk memulai bagaimana Titarubi sedang merakit “her-story”-nya. Ia tengah merangkai sebentuk narasi Yang-Lain (the other) atas kebenaran tunggal yang ada. Begitu beragam metafor yang ia hadirkan, dan sebagaimana caranya berproses yaitu karyanya membuka memicu penafsiran yang terbuka. Salah satu karya yang bagi saya cukup meminta penafsiran yang luas adalah pada “Bayang-Bayang Mahakecil”. Disitu nampak sosok miniatur bocah yang bertoreh huruf Arab, dan memang itu doa-doa dalam ajaran Islam, nampak begitu kompleksnya tanda-tanda dalam karya ini, dan saya kira Anda bisa menafsirkannya.

Banyak tubuh yang dipintal dari ketidaklengkapan tubuh dalam karya-karyanya. Kita seperti dihadapkan pada cermin yang retak. Saat mengaca, kita menyadari betapa wajah dan badan kita terlihat tercerai-berai dan berkeping-keping. Ada sebentuk rasa pengingkaran atas mutilasi yang diperlihatkan cermin retak itu pada kita. Kita seolah mencari diri kita untuk kembali utuh, sebab dengan utuh, ada rasa penuh. Tapi karya-karya Titarubi ini seperti mengingatkan bahwa ada yang keliru dari cara mematut diri kita pada pilihan cermin yang ada, dan yang mulus itu, sebagaimana tajuk pameran ini “Her-story”. Bahwa tajuk pameran ini mengandung penegasan sekaligus sebuah provokasi, (dengan pemaknaan lain, tema itu menggugah sebuah kritik bahwa begitu laki-lakinya narasi sejarah kita ini).

Apa yang diadvokasi dalam karya-karya Titarubi bagi saya adalah pada beragam bentuk narasi yang terlewat, dan yang terlupakan. Sebab lupa bagi kebiasaan bangsa ini adalah kenormalan yang serius. Begitu banyak hal produk kesewenang-wenangan dan meminta ongkos kemanusiaan yang besar, namun dengan cepat pula ingatan kita menjadi kosong oleh sebab absennya penanda. Karya-karya Tita ini seperti mendirikan penanda ingatan itu—lewat kompleksitas yang tak mudah bagi Titarubi jalani—yakni antara mengarungi momen saat Ia membentuk wilayah historisitasnya sendiri. Dan momen-momen saat Ia mengerjakan peran sosial, sekaligus sebagai seniman yang berupaya mengurai ulang konstruk-konstruk sosio-historis dirinya—melalui lahirnya beragam metafor yang telah Ia loloskan dari permenungannya.

Advertisements

About this entry